Cinta Runtuh Kalau Jatuh Cinta Tapi Cinta Subur Kalau Membangun Cinta
Suara
kicauan burung di pagi hari dan matahari yang sudah mulai beranjak naik
sehingga langit pagi hari menjadi sangat cerah menandakan kalau aku harus
berangkat ke kampus lebih pagi agar tidak terlambat. Akhirnya aku tiba di
kampus untuk mengikuti sederet jadwal mata kuliah dan hari ini aku sangat sibuk
sekali, setelah selesai kuliah aku harus mengurus kegiatan teater di kampus bersama
teman-temanku. Dan aku memiliki kekasih yang satu kampus juga dengan aku dan
dia juga ikut teater bersama aku. Kami menjalin hubungan sudah satu tahun. Tidak
terasa kalau waktu kuliah sudah selesai maka aku harus segera menuju aula
teater.
“Kring…Kring…Kring.”
Suara bel kampus berbunyi.
“Kamu
pulang duluan aja, gak usah nunggu kita, terus kan aku, Reyna, Karina, Nia mau latihan
teater sekarang.” Berkata Hana kepada Nisa.
Nisa
menjawab singkat, “Ya udah gak masalah, aku pulang duluan yah..”
“iya.”
Jawab singkat Hana.
Nisa
pun pulang lebih dahulu ke rumahnya hanya sendiri tidak bersama Hana dan Nisa
karena Hana dan Nisa bukan anggota teater tapi pengurus senat dan tidak ada kegiatan sekarang.
Kemudian Hana mengajak teman-temannya menuju tempat latihan teater.
“guys,
sekarang kita ke aula teater ayooo cepet."
“iya..iya..
oh.. aku tau kamu mau cepet-cepet ke aula teater pengen banget bisa ketemu Andika
yak an.” Berujar Karina.
Hana berkata, “hahaa kamu kayak paranormal, tau aja. Udah yuk ke aula.”
“iya.” Ucap Reyna.
Ketika sampai di aula teater mereka segera masuk ke dalam gedung teater dan sudah banyak teman-teman yang berkumpul. Andika sudah datang sejak beberapa menit yang lalu.
“Nah,
baru juga disebut-sebut namanya, orangnya langsung muncul juga di sini.
Itu mereka udah datang, dikira gak dateng.” Sonya berujar kepada teman-teman teater
sambil melihat kedatangan Hana, Reyna, Karina, Nia.
“maaf, kita terlambat kak Sonya, temen-temen heehee.” Hana meminta maaf kepada
Kak Sonya dan teman-teman teater.
Kak Sonya dan teman-teman teater.
Kak Sonya berujar dengan tegas, “Ya sudah kali ini saya bisa maklumin tapi lain kali
harus bisa datang on time dan kasihan teman-teman kalian yang sudah datang
jadi menunggu kalian agak lama. Kalian harus mengerti itu.”
“baik,
kita mengerti Kak.”
Kak
Sonya langsung memulai latihan teaternya lalu berkata, “ayo kita mulai sekarang
aja latihan drama musikal untuk acara pementasan teater di Taman Ismail
Marzuki, harus semangat dan berlatih dengan serius semuanya.”
Semua
anggota teater serentak menjawab, “siap kak”
Disela-sela
waktu latihan Hana yang belum main teaternya mencoba memanggil Andika sang
kekasihnya, “Dika.. Dika..(sambil tersenyum) jangan lupa nanti pulangnya bareng.
Dan ada yang penting mau aku omongin.”
Andika
yang sedang membantu Kak Sonya dan teman-teman berlatih teater menoleh
kepadanya lalu berkata, “apa? apa? oh iya, iya. Kita latihan dulu ya,
semangat(sambil memberi senyuman kepada Hana dan wajah cemas).”
“ya
sudah aku sudah dipanggil buat main."
Hana
dan teman-teman teater sedang sibuk berlatih drama musikal dengan serius untuk
dipentaskan di acara pertunjukan seni teater 3 minggu yang akan datang. Tidak
terasa waktu berlatih selesai karena jam sudah menunjukkan pukul 16.30 lalu
mereka mengahkiri latihannya dan pulang ke rumah masing-masing. Latihan dibubarkan oleh Kak
Sonya.
“sudah
jam setengah lima, sudah sore nih, kita latihannya selesai ya.. nanti kita
lanjut
latihan lagi seperti biasa, jangan lupa. ya.. kalian semua bisa pulang."
latihan lagi seperti biasa, jangan lupa. ya.. kalian semua bisa pulang."
“Oke
kak.” Dijawab oleh semua anggota dengan kompak.
Kemudian semua pemain teater meninggalkan gedung teater.
Kemudian semua pemain teater meninggalkan gedung teater.
Andika segera mendatangi Hana karena Andika
ingin mengetahui apa sebenarnya yang ingin dibicarakan oleh Hana.
“Han, apa yang mau kamu bicarakan dengan aku?” Tanya Andika dengan rasa penasaran.
“Han, apa yang mau kamu bicarakan dengan aku?” Tanya Andika dengan rasa penasaran.
Hana
menjawab dengan serius dan tampak raut wajah yang sangat kecewa, “Aku sudah tau kalau
kamu sebenarnya sudah dijodohkan dengan seorang wanita yang jauh lebih baik
dari aku oleh orang tuamu. Aku sudah tau semuanya, aku sudah memutuskan kalau
kita akhiri saja hubungan ini cukup sampai disini, aku sudah berfikir matang
dengan keputusan ini.”
“Darimana kamu bisa tahu tentang itu?” Tanyanya.
“Aku
tau dari Fanya saudara sepupu kamu, kemarin kita sempet chating lalu dia gak
sengaja menceritakan semuanya.” Hana beri penjelasan kepada Andika.
sengaja menceritakan semuanya.” Hana beri penjelasan kepada Andika.
Andika mencoba memberikan penjelasan kepada Hana dengan tegas dan lembut.
“Itu memang benar semuanya, aku
sudah dijodohkan oleh orang tua aku dengan seorang muslimah. Kemudian, orang tua aku sudah sangat mengenalnya dan keluarganya. Orang tua aku sangat mendesak
aku untuk bisa menikah dengannya. Aku sudah coba menolak tapi Ayahku tetap menginginkan hal itu. Akhirnya aku gak bisa menolaknya. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa
lagi sekarang. Dan rencananya setelah lulus nanti akan dilangsungkan pernikahannya.
Maafkan aku baru bisa mengatakan semuanya sekarang, aku harap kamu bisa
mengerti."
“Sekarang
kita jalani hidup kita masing-masing dan sekarang gak ada lagi yang perlu
dibicarakan lagi.” Hana berkata dengan tegas tanpa meneteskan air matanya dan
berjalan meninggalkan Andika, lalu Hana pulang ke rumah. Kemudian Hana sampai
di rumah dan beristirahat di ruang tamu sambil merenung.
Hana
berkata dalam perenungannya, “Hubungan yang sudah dijalani selama satu tahun
harus kandas di tengah jalan, aku sangat menyesal sekali dengan perbuatanku
rasanya aku telah menjadi orang yang sangat bodoh sekali, hatiku berkata kalau
perbuatanku selama ini memang sangat salah lalu sekarang aku harus memperbaiki
semua kesalahanku, ya aku harus berhijrah sekarang dan aku tidak ingin
mengulangi semua kesalahanku di masa lalu. Ya Tuhan ampunkan aku dan bantu aku
untuk berhijrah menuju jalan kebenaran dan kebaikan.”
Hana mengambil handphonenya dan segera menelpon Kak Sonya.
“Halo.. Kak Sonya saya mohon maaf.”
“kenapa
minta maaf?” tanyanya dengan terkejut dan sangat penasaran.
“ya
kak saya ingin keluar dari teater, ini sudah aku fikirkan dengan matang, memang
terasa berat untuk keluar dari teater apalagi beberapa waktu dekat ini akan pentas dan
gak bisa sering berkumpul lagi bersama semua anggota teater, sekali lagi aku mohon
maaf kak."
terasa berat untuk keluar dari teater apalagi beberapa waktu dekat ini akan pentas dan
gak bisa sering berkumpul lagi bersama semua anggota teater, sekali lagi aku mohon
maaf kak."
Kak
Sonya hanya bisa sedikit berkata karena tidak bisa lagi bayak berkata-kata kepadanya. Dan Hana merasa senang kalu Kak Sonya bsa memaklumi.
“Kalo itu mau kamu, ya sudah. aku gak bisa memaksa kamu tetap di teater.”
“Kalo itu mau kamu, ya sudah. aku gak bisa memaksa kamu tetap di teater.”
“ya
terimakasih Kak untuk pengertiannya.” Ucapnya.
Setelah
itu, sekarang Hana selain sibuk mengurus kuliah, kini Hana memiliki kegiatan
baru dengan mengikuti kajian-kajian Islam di kampus dan bergabung dengan
beberapa komunitas di luar kampus juga untuk memperdalam pengetahuan
agamanya, menjalani kegiatan baru dan menikmati proses perjalanan hijrahnya yang akhirnya Hana bertemu dengan
orang-orang baru yang kemudian menjadi teman barunya, bahkan menjadi sahabat lalu Hana sangat merasa bahagia menjalani hari-hari baru seperti itu. Hal ini dianggapnya
sebagai titik baru untuk memulai kehidupan yang baru. Waktu terus berjalan
hingga sudah setahun Hana menjalani proses berhijrah dan akhirnya Hana lulus dari kuliah dengan
hasil yang cukup memuaskan. Dan Orang tuanya juga bangga dengannya. Kemudian, Hana bekerja dengan menekuni bidang yang
sudah dikuasai dari kuliahnya sambil terus mengurus kegiatan keislaman dan komunitas bersama
sahabat-sahabatnya.
Enam
bulan kemudian, seorang laki-laki datang ke rumahnya lalu bertemu dengan ayah Hana tanpa sepengatuhan Hana dan kedua orang tua Hana sangat terkejut
dengan kedatangan laki-laki tersebut.
“Assalamu’alaikum(sambil
mengetuk pintu tok..tok..tok)."
Ayah
Hana mendengar ada suara seseorang yang datang ke rumah dan segera membukakan
pintu lalu menjawab salam dan mengatakan sesuatu, “Wa’alaikum salam, siapa
kamu? dan ada apa kamu kesini?”
Laki-laki
muda tersebut seraya berkata, “Pak, nama saya Fatih dan
maksud saya datang kesini karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada
bapak.”
“ya sudah.. silahkan masuk dulu.”
“iya, pak” Ucapnya.
“apa
yang ingin kamu bicarakan? Sedangkan saya belum pernah kenal kamu.”
Fatih
segera menjelaskan maksud kedatangannya kepada Ayah Hana, “Saya sebenaranya
sudah lama mengenal putri bapak, Hana dan saya mengenal Hana dari satu kegiatan
Islam lalu saya ingin melamar putri bapak untuk menjadi istri saya.”
Ayah
Hana berkata dengan tegas untuk memberi jawabannya, “Saya sangat menghargai
niat kamu, tapi keputusan tergantung dari putri saya Hana, nanti saya akan coba
menanyakan hal ini kepada Hana.”
Lalu Ayah Hana memanggil Hana untuk
membicarakan hal tersebut secara langsung.
“tunggu sebentar yah saya panggil dulu Hana nya,” berkata Ayah Hana.
“tunggu sebentar yah saya panggil dulu Hana nya,” berkata Ayah Hana.
“Hana,
Hana kesini nak ayah ingin bicara sam kamu sekarang.” Ayah memanggil Hana di
depan pintu kamarnya. Hana pun keluar dari kamar lalu berkata, “iya, ayah
ada apa?” dan Hana sangat terkejut kalau Fatih datang ke rumah dan wajahnya tampak bingung.
“Hana, Fatih sudah melamarmu lalu apa kamu mau menerimanya?” Tanya Ayah.
Hana
menjawab dengan penuh ketegasan, “aku ingin mengikuti keputusan ayah saja,
karena pilihan ayah pasti yang terbaik buat aku.”
Seketika
suasana menjadi sangat menegangkan dan sangat terlihat jelas dari raut wajah
Fatih ketika menunggu jawaban dari mereka.
“saya
menerima lamaran kamu, saya yakin kamu pasti bisa menjaga putri saya dan saya
harap kamu bisa menjaga amanah dari saya.” Ayah Hana memberikan jawaban dan
pesannya.
harap kamu bisa menjaga amanah dari saya.” Ayah Hana memberikan jawaban dan
pesannya.
Fatih
sedikit berujar, “baiklah saya akan selalu ingat amanahnya dan saya akan datang
kembali dengan membawa keluarga saya kesini.”
Dua
minggu kemudian Hana dan Fatih melangsungkan pernikahan secara sederhana.
Tampaknya mereka berdua terlihat bahagia untuk menempuh kehidupan baru. Setelah
menikah hari-hari dijalani mereka berdua. Disaat hujan turun tidak lebat dan
udara yang cukup sangat dingin Hana dan Fatih mengobrol di teras rumah.
“Aku sebenernya sudah lama suka dengan kamu, aku mencintai kamu karena
agamamu(Fatih tersenyum lebar).”
Lalu Hana tersenyum sumringah dan berkata, “oh iya.. semoga pernikahan kita bisa selalu harmonis dan selalu berada dibawah naungan ridho Allah.”
“Aku sebenernya sudah lama suka dengan kamu, aku mencintai kamu karena
agamamu(Fatih tersenyum lebar).”
Lalu Hana tersenyum sumringah dan berkata, “oh iya.. semoga pernikahan kita bisa selalu harmonis dan selalu berada dibawah naungan ridho Allah.”
"Aku sangat bersyukur kepada Allah kalau aku bisa menjadi suami kamu dan bisa berada
di sisi kamu disetiap waktu(Fatih tersenyum lebar dengan wajah yang sangat bahagia)."
Fatih mengungkapkan perasaan bahagianya kepada Hana yang sekarang menjadi
istrinya.
Hana berkata dengan serius, "Aku juga merasa bersyukur, ini semua atas kehendak Allah sampai kita bisa bersama-sama."
di sisi kamu disetiap waktu(Fatih tersenyum lebar dengan wajah yang sangat bahagia)."
Fatih mengungkapkan perasaan bahagianya kepada Hana yang sekarang menjadi
istrinya.
Hana berkata dengan serius, "Aku juga merasa bersyukur, ini semua atas kehendak Allah sampai kita bisa bersama-sama."
"Oh yaa. aku baru inget, aku punya satu permintaan ke kamu." Berkata Fatih dengan membuat Hana sedikit bingung dan penasaran.
"apa itu?" Tanya Hana`
Fatih menjawab, "Aku mau kita masuk ke ISIS, karena ISIS sebenernya bangus banget gak seperti berita yang biasanya beredar.
"apaaaa...(Hana merasa kaget dan sedikit bingung) ISIS kan kelompok radikal buat apa kita masuk ISIS?" Tanyanya.
Fatih akhirnya menjawab sambil tertawa menggelitik, "aku mau pokoknya kita harus tetep masuk ISIS, karena ISIS itu Ikatan Suami Istri Soleh dan Solehah hahaaa."
"hahaa... aduuuh bikin aku jadi bingung aja yaaa..." Ucap Hana sambil tertawa.
Sepuluh
bulan kemudian Hana dan Fatih dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan.
Dan satu tahun kemudian mereka kembali dikaruniai anak perempuan, lalu dua
tahun kemudian Hana dan Fatih kembali dikaruniai anak laki-laki kini mereka
sibuk merawat anak-anak mereka. Hana dan Fatih berupaya keras membangun cinta
dan rumah tangganya agar tetap selalu utuh dan harmonis. Dan mereka berkomitmen
hanya kematian yang dapat memisahkan.
Cerpen bernuansa Islam ini semoga bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Cerpen bernuansa Islam ini semoga bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.