Selasa, 11 Agustus 2015

Karya Literasi "Cerpen Bernuansa Islami"






Cinta Runtuh Kalau Jatuh Cinta Tapi Cinta Subur Kalau Membangun Cinta



     Suara kicauan burung di pagi hari dan matahari yang sudah mulai beranjak naik sehingga langit pagi hari menjadi sangat cerah menandakan kalau aku harus berangkat ke kampus lebih pagi agar tidak terlambat. Akhirnya aku tiba di kampus untuk mengikuti sederet jadwal mata kuliah dan hari ini aku sangat sibuk sekali, setelah selesai kuliah aku harus mengurus kegiatan teater di kampus bersama teman-temanku. Dan aku memiliki kekasih yang satu kampus juga dengan aku dan dia juga ikut teater bersama aku. Kami menjalin hubungan sudah satu tahun. Tidak terasa kalau waktu kuliah sudah selesai maka aku harus segera menuju aula teater.

       “Kring…Kring…Kring.” Suara bel kampus berbunyi.


      “Kamu pulang duluan aja, gak usah nunggu kita, terus kan aku, Reyna, Karina, Nia mau latihan teater sekarang.” Berkata Hana kepada Nisa.


       Nisa menjawab singkat, “Ya udah gak masalah, aku pulang duluan yah..”


      “iya.” Jawab singkat Hana.


      Nisa pun pulang lebih dahulu ke rumahnya hanya sendiri tidak bersama Hana dan Nisa karena Hana dan Nisa bukan anggota teater tapi pengurus senat dan tidak ada kegiatan sekarang. Kemudian Hana mengajak teman-temannya menuju tempat latihan teater.

        “guys, sekarang kita ke aula teater ayooo cepet."


        “iya..iya.. oh.. aku tau kamu mau cepet-cepet ke aula teater pengen banget bisa ketemu Andika yak an.” Berujar Karina.


         Hana berkata, “hahaa kamu kayak paranormal, tau aja. Udah yuk ke aula.”


        “iya.” Ucap Reyna.

       Ketika sampai di aula teater mereka segera masuk ke dalam gedung teater dan sudah banyak teman-teman yang berkumpul. Andika sudah datang sejak beberapa menit yang lalu.
        “Nah, baru juga disebut-sebut namanya, orangnya langsung muncul juga di sini.
         Itu mereka udah datang, dikira gak dateng.” Sonya berujar kepada teman-teman teater
         sambil melihat kedatangan Hana, Reyna, Karina, Nia.


       “maaf, kita terlambat kak Sonya, temen-temen heehee.” Hana meminta maaf kepada
        Kak Sonya dan teman-teman teater.

        Kak Sonya berujar dengan tegas, “Ya sudah kali ini saya bisa maklumin tapi lain kali 
harus bisa datang on time dan kasihan teman-teman kalian yang sudah datang jadi menunggu kalian agak lama. Kalian harus mengerti itu.”


       “baik, kita mengerti Kak.”


       Kak Sonya langsung memulai latihan teaternya lalu berkata, “ayo kita mulai sekarang aja latihan drama musikal untuk acara pementasan teater di Taman Ismail Marzuki, harus semangat dan berlatih dengan serius semuanya.”


        Semua anggota teater serentak menjawab, “siap kak”


Disela-sela waktu latihan Hana yang belum main teaternya mencoba memanggil Andika sang kekasihnya, “Dika.. Dika..(sambil tersenyum) jangan lupa nanti pulangnya bareng. Dan ada yang penting mau aku omongin.”


Andika yang sedang membantu Kak Sonya dan teman-teman berlatih teater menoleh kepadanya lalu berkata, “apa? apa? oh iya, iya. Kita latihan dulu ya, semangat(sambil memberi senyuman kepada Hana dan wajah cemas).”


         “ya sudah aku sudah dipanggil buat main."


Hana dan teman-teman teater sedang sibuk berlatih drama musikal dengan serius untuk dipentaskan di acara pertunjukan seni teater 3 minggu yang akan datang. Tidak terasa waktu berlatih selesai karena jam sudah menunjukkan pukul 16.30 lalu mereka mengahkiri latihannya dan pulang ke rumah masing-masing. Latihan dibubarkan oleh Kak Sonya.


        “sudah jam setengah lima, sudah sore nih, kita latihannya selesai ya.. nanti kita lanjut
         latihan lagi seperti biasa, jangan lupa. ya.. kalian semua bisa pulang."


        “Oke kak.” Dijawab oleh semua anggota dengan kompak.

Kemudian semua pemain teater meninggalkan gedung teater.
Andika segera mendatangi Hana karena Andika ingin mengetahui apa sebenarnya yang ingin dibicarakan oleh Hana.
      “Han, apa yang mau kamu bicarakan dengan aku?” Tanya Andika dengan rasa penasaran.


Hana menjawab dengan serius dan tampak raut wajah yang sangat kecewa, “Aku sudah tau kalau kamu sebenarnya sudah dijodohkan dengan seorang wanita yang jauh lebih baik dari aku oleh orang tuamu. Aku sudah tau semuanya, aku sudah memutuskan kalau kita akhiri saja hubungan ini cukup sampai disini, aku sudah berfikir matang dengan keputusan ini.”


       “Darimana kamu bisa tahu tentang itu?” Tanyanya.


      “Aku tau dari Fanya saudara sepupu kamu, kemarin kita sempet chating lalu dia gak
      sengaja menceritakan semuanya.” Hana beri penjelasan kepada Andika.


Andika mencoba memberikan penjelasan kepada Hana dengan tegas dan lembut.
“Itu memang benar semuanya, aku sudah dijodohkan oleh orang tua aku dengan seorang muslimah. Kemudian, orang tua aku sudah sangat mengenalnya dan keluarganya. Orang tua aku sangat mendesak aku untuk bisa menikah dengannya. Aku sudah coba menolak tapi Ayahku tetap menginginkan hal itu. Akhirnya aku gak bisa menolaknya. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Dan rencananya setelah lulus nanti akan dilangsungkan pernikahannya. Maafkan aku baru bisa mengatakan semuanya sekarang, aku harap kamu bisa mengerti."


“Sekarang kita jalani hidup kita masing-masing dan sekarang gak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi.” Hana berkata dengan tegas tanpa meneteskan air matanya dan berjalan meninggalkan Andika, lalu Hana pulang ke rumah. Kemudian Hana sampai di rumah dan beristirahat di ruang tamu sambil merenung.


Hana berkata dalam perenungannya, “Hubungan yang sudah dijalani selama satu tahun harus kandas di tengah jalan, aku sangat menyesal sekali dengan perbuatanku rasanya aku telah menjadi orang yang sangat bodoh sekali, hatiku berkata kalau perbuatanku selama ini memang sangat salah lalu sekarang aku harus memperbaiki semua kesalahanku, ya aku harus berhijrah sekarang dan aku tidak ingin mengulangi semua kesalahanku di masa lalu. Ya Tuhan ampunkan aku dan bantu aku untuk berhijrah menuju jalan kebenaran dan kebaikan.”


Hana mengambil handphonenya dan segera menelpon Kak Sonya.
         “Halo.. Kak Sonya saya mohon maaf.”


        “kenapa minta maaf?” tanyanya dengan terkejut dan sangat penasaran.


        “ya kak saya ingin keluar dari teater, ini sudah aku fikirkan dengan matang, memang
       terasa berat untuk keluar dari teater apalagi beberapa waktu dekat ini akan pentas dan
       gak bisa sering berkumpul lagi bersama semua anggota teater, sekali lagi aku mohon
       maaf kak."


Kak Sonya hanya bisa sedikit berkata karena tidak bisa lagi bayak berkata-kata kepadanya. Dan Hana merasa senang kalu Kak Sonya bsa memaklumi.
      “Kalo itu mau kamu, ya sudah. aku gak bisa memaksa kamu tetap di teater.”


      “ya terimakasih Kak untuk pengertiannya.” Ucapnya.


Setelah itu, sekarang Hana selain sibuk mengurus kuliah, kini Hana memiliki kegiatan baru dengan mengikuti kajian-kajian Islam di kampus dan bergabung dengan beberapa komunitas di luar kampus juga untuk memperdalam pengetahuan agamanya, menjalani kegiatan baru dan menikmati proses perjalanan hijrahnya yang akhirnya Hana bertemu dengan orang-orang baru yang kemudian menjadi teman barunya, bahkan menjadi sahabat lalu Hana sangat merasa bahagia menjalani hari-hari baru seperti itu. Hal ini dianggapnya sebagai titik baru untuk memulai kehidupan yang baru. Waktu terus berjalan hingga sudah setahun Hana menjalani proses berhijrah dan akhirnya Hana lulus dari kuliah dengan hasil yang cukup memuaskan. Dan Orang tuanya juga bangga dengannya. Kemudian, Hana bekerja dengan menekuni bidang yang sudah dikuasai dari kuliahnya sambil terus mengurus kegiatan keislaman dan komunitas bersama sahabat-sahabatnya.

Enam bulan kemudian, seorang laki-laki datang ke rumahnya lalu bertemu dengan ayah Hana tanpa sepengatuhan Hana dan kedua orang tua Hana sangat terkejut dengan kedatangan laki-laki tersebut.


        “Assalamu’alaikum(sambil mengetuk pintu tok..tok..tok)."


Ayah Hana mendengar ada suara seseorang yang datang ke rumah dan segera membukakan pintu lalu menjawab salam dan mengatakan sesuatu, “Wa’alaikum salam, siapa kamu? dan ada apa kamu kesini?”


Laki-laki muda tersebut seraya berkata, “Pak, nama saya Fatih dan maksud saya datang kesini karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada bapak.”


        “ya sudah.. silahkan masuk dulu.”


        “iya, pak” Ucapnya.


        “apa yang ingin kamu bicarakan? Sedangkan saya belum pernah kenal kamu.”


Fatih segera menjelaskan maksud kedatangannya kepada Ayah Hana, “Saya sebenaranya sudah lama mengenal putri bapak, Hana dan saya mengenal Hana dari satu kegiatan Islam lalu saya ingin melamar putri bapak untuk menjadi istri saya.”


Ayah Hana berkata dengan tegas untuk memberi jawabannya, “Saya sangat menghargai niat kamu, tapi keputusan tergantung dari putri saya Hana, nanti saya akan coba menanyakan hal ini kepada Hana.”
Lalu Ayah Hana memanggil Hana untuk membicarakan hal tersebut secara langsung.
       “tunggu sebentar yah saya panggil dulu Hana nya,” berkata Ayah Hana.


      “Hana, Hana kesini nak ayah ingin bicara sam kamu sekarang.” Ayah memanggil Hana di depan pintu kamarnya. Hana pun keluar dari kamar lalu berkata, “iya, ayah ada apa?” dan Hana sangat terkejut kalau Fatih datang ke rumah dan wajahnya tampak bingung.
      
      “Hana, Fatih sudah melamarmu lalu apa kamu mau menerimanya?” Tanya Ayah.


Hana menjawab dengan penuh ketegasan, “aku ingin mengikuti keputusan ayah saja, karena pilihan ayah pasti yang terbaik buat aku.”


Seketika suasana menjadi sangat menegangkan dan sangat terlihat jelas dari raut wajah Fatih ketika menunggu jawaban dari mereka.

     “saya menerima lamaran kamu, saya yakin kamu pasti bisa menjaga putri saya dan saya
     harap kamu bisa menjaga amanah dari saya.” Ayah Hana memberikan jawaban dan
     pesannya.


Fatih sedikit berujar, “baiklah saya akan selalu ingat amanahnya dan saya akan datang kembali dengan membawa keluarga saya kesini.”


Dua minggu kemudian Hana dan Fatih melangsungkan pernikahan secara sederhana. Tampaknya mereka berdua terlihat bahagia untuk menempuh kehidupan baru. Setelah menikah hari-hari dijalani mereka berdua. Disaat hujan turun tidak lebat dan udara yang cukup sangat dingin Hana dan Fatih mengobrol di teras rumah.
     “Aku sebenernya sudah lama suka dengan kamu, aku mencintai kamu karena
     agamamu(Fatih tersenyum lebar).”
Lalu Hana tersenyum sumringah dan berkata, “oh iya.. semoga pernikahan kita bisa selalu harmonis dan selalu berada dibawah naungan ridho Allah.”

    "Aku sangat bersyukur kepada Allah kalau aku bisa menjadi suami kamu dan bisa berada
    di sisi kamu disetiap waktu(Fatih tersenyum lebar dengan wajah yang sangat bahagia)."
    Fatih mengungkapkan perasaan bahagianya kepada Hana yang sekarang menjadi
    istrinya. 
Hana berkata dengan serius, "Aku juga merasa bersyukur, ini semua atas kehendak Allah sampai kita bisa bersama-sama."

   "Oh yaa. aku baru inget, aku punya satu permintaan ke kamu." Berkata Fatih dengan  membuat Hana sedikit bingung dan penasaran.

    "apa itu?" Tanya Hana`

Fatih menjawab, "Aku mau kita masuk ke ISIS, karena ISIS sebenernya bangus banget gak seperti berita yang biasanya beredar.

    "apaaaa...(Hana merasa kaget dan sedikit bingung) ISIS kan kelompok radikal buat apa kita masuk ISIS?" Tanyanya.

Fatih akhirnya menjawab sambil tertawa menggelitik, "aku mau pokoknya kita harus tetep masuk ISIS, karena ISIS itu Ikatan Suami Istri Soleh dan Solehah hahaaa."

     "hahaa... aduuuh bikin aku jadi bingung aja yaaa..." Ucap Hana sambil tertawa.

      Sepuluh bulan kemudian Hana dan Fatih dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan. Dan satu tahun kemudian mereka kembali dikaruniai anak perempuan, lalu dua tahun kemudian Hana dan Fatih kembali dikaruniai anak laki-laki kini mereka sibuk merawat anak-anak mereka. Hana dan Fatih berupaya keras membangun cinta dan rumah tangganya agar tetap selalu utuh dan harmonis. Dan mereka berkomitmen hanya kematian yang dapat memisahkan.

Cerpen bernuansa Islam ini semoga bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.